Cerita Usaha Kreatif Rumahan Milik Seorang Ibu yang Sampai ke Pelosok Indonesia Bersama JNE
Tahun 2019 aku
masih di Ciseeng Bogor bersama suami dan anak pertamaku yang masih satu tahun
usianya. Kami tinggal di kontrakan yang kecil tapi nyaman untuk keluarga kecil
kami. Hidupku sebagai ibu rumah tangga tenang rasanya karena ada suami di dekat
kami yang berjuang mencari rezeki. Tapi hidup memang sulit ditebak, awal tahun
2020 pandemi Covid-19 mengusik hidup kami di perantauan. Pasangan muda yang
sedang berjuang membangun keluarga kecil bahagia kini harus menghadapin cobaan
besar. Kami terpaksa pulang kampung ke Banjarnegara Jawa Tengah membawa
barang-barang yang kami beli sedikit demi sedikit untuk kebutuhan keluarga
kecil kami. Mimpi kami terkubur bersama kerugian materi yang tak sedikit. Mobil
terpaksa kami jual meski masih belum cukup untuk melunasi hutang kami.
Bagaimana nasib anak kami dan adik bayinya yang sebentar lagi lahir?
Fisik terasa
lemah, berulang kali kami jatuh sakit tak seperti biasanya. Pandemi ini memang
benar adanya. Tapi itu tak menyurutkan semangatku untuk terus berkarya.
Sebelumnya aku memang sedang menekuni hobiku, belajar melukis sambil mencari
komisi. Karena dirasa pengerjaannya terlalu lama maka aku merambah ke dunia
digital, sekalian mengikuti zaman. Masih belum puas, hasil editan foto itu aku
cetak dan dihiasi bunga imitasi di dalam bingkai. Ternyata animonya lumayan
tinggi, kebanyakan untuk kado wisuda, ulang tahun, pernikahan, dan anniversary.
“Wah, cantik banget hasilnya, aku suka, makasih ya..”, respon kebanyakan
pembeli yang sering membuat aku serasa terbang. Semangat berkarya makin membara
rasanya setelah melihat senyum yang merekah di momen-momen bahagia mereka.
Marketplace Bagai
Cahaya Harapan di Saat Pandemi
Digital
marketing sangat memudahkanku untuk mendapatkan calon pembeli dari seluruh
daerah di Indonesia. Pandemi membuat orang-orang mulai terbiasa berbelanja
secara daring, selain itu media sosial pun semakin ramai. Bermodalkan unggahan
hasil karya yang aku potret dengan estetik di Instagram maharnikah.hm dan
kadounik.hm, karyaku mulai dikenal banyak orang dan menghasilkan engagement yang
baik. Sering juga konsumen meminta untuk custom sesuai keinginan dan
kebutuhan mereka.
Suatu saat,
seorang teman memintaku untuk membuat bingkai mahar pernikahan, yang itu mirip
dengan jenis karya yang sedang aku tekuni. Dengan senang hati aku mencobanya
untuk pertama kali. Bangganya aku bisa mengalahkan rasa khawatirku selama
proses pengerjaan. “Apakah karyaku ini sudah bagus? Apa mungkin dia suka? Aku
belum pernah membuat ini sebelumnya”, rasa tidak percaya diri yang seringkali
menghantui. Tapi hingga akhirnya karya mahar pernikahan pertamaku ini selesai
dibuat, lagi-lagi respon tak terduga dari si pemesan membuatku tak percaya.
Siapa sangka, ternyata dia suka dengan hasilnya. Aku jadi belajar bahwa percaya
diri begitu penting dalam membuat sebuah karya. Ragu-ragu dan kekhawatiran
hanya akan membuat aku mengurungkan niat untuk menciptakan suatu karya. Aku
jadi teringat ungkapan seseorang, bahwa ide tanpa eksekusi hanyalah
angan-angan.
Aku memang
seorang penjual online di sosial media, tapi di sisi lain aku adalah
konsumen baru di marketplace. Ya, kalau bukan karena pandemi aku mungkin
masih menjadi orang yang kurang update, apalagi aku juga tidak hobi berbelanja.
Setelah merasakan mudahnya berbelanja secara online di marketplace, aku
mulai berfikir untuk membuka toko online juga disana. Barang pertama
yang aku pajang di etalase toko onlineku adalah kado bingkai yang biasa
aku buat dan juga mahar pernikahan milik temanku itu. Memang Tuhan Maha
Pemurah, inilah momen yang tepat untuk aku memulai usaha di marketplace,
yaitu di saat pandemi.
Saat kondisi
ekonomi keluarga kecil kami sedang terpuruk, Tuhan mudahkan rezeki kami lewat
usaha mahar pernikahan. Traffic betul-betul melejit dalam beberapa bulan
saja. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa seorang ibu rumah tangga yang tak
punya modal bisa membuka usaha dengan prospek yang bagus. Hingga setelah anak
ke dua kami lahir, pesanan mahar pernikahan membludak. Selalu excited saat melihat
alamat pembeli karena berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang
belum pernah aku pijak. Ada dari Aceh, Kalimantan, bahkan Papua. Senang karyaku
bisa sampai di pelosok negeri.
Kreatifitas Tanpa Batas Meski dengan
Fasilitas yang Terbatas
Keterbatasan
alat tak menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Semangat untuk menyelesaikan
setiap pesanan yang masuk tak pernah surut. Mengedit dengan aplikasi Canva di smartphone
sambil menyusui, lalu mengirim file ke percetakan kecil dekat rumah
adalah hal yang kini jadi kenangan yang bisa diingat dengan senyuman bangga.
Mengingat saat itu kami berusaha tak menambah hutang untuk modal usaha, jadi
kami bertahan dengan keterbatasan. Hingga akhirnya keuntungan yang kami
kumpulkan bisa untuk membeli printer bekas. Sehingga pengerjaan menjadi
lebih cepat karena tak perlu bolak-balik ke percetakan. Stok bunga dengan
berbagai warna pun mulai terpajang di rak plastik demi kelancaran pengerjaan
pesanan. Setelah sebelumnya hanya ada 1 kaleng bunga yang aku simpan di atas
meja lipat sederhana. Fokus kami adalah mengumpulkan modal dari usaha ini. Karena
aku percaya akan selalu ada jalan untuk mereka yang mau berusaha.
Hastuti Bersemangat Mengerjakan
Pesanan Bingkai Mahar Pernikahan, Rabu (31/07/2024). Foto : Hastuti Madyaning
Utami
Satu tahun berlalu, kami
memutuskan untuk membuat ruang kerja di rumah meski hanya berukuran 1,5x3
meter. Tempat yang mungil namun sebenarnya efisien untuk bekerja. Rak dan
barang-barang yang semakin banyak jadi tak lagi mengganggu pandangan tamu yang
datang ke rumah. Dari modal yang terkumpul kami pun membeli dus custom
menyesuaikan ukuran produk kami. Tak lagi repot-repot menggunakan dus bekas yang memerlukan effort dan
waktu tak kurang dari 30 menit hanya untuk mengemas 1 bingkai. Kini mengemas
paket jauh lebih cepat sehingga bisa lebih produktif lagi dan punya banyak
waktu untuk bermain bersama anak-anak.
Konsumen Harus Puas Luar Dalam
Salah satu
jasa ekspedisi yang paling banyak dipilih konsumen adalah JNE karena memiliki
tarif terendah untuk paket dengan volume besar. Apalagi untuk produk bingkai
dengan ukuran 38x48cm tentu memiliki ukuran kemasan yang besar. Tapi konsumen
tak akan khawatir karena ongkos kirim justru murah dengan JNE Trucking (JTR).
Kita semua tau psikologi pembeli yang selalu menginginkan ongkos kirim murah.
Bayangkan pembeli tersenyum lega saat check out, setelah khawatir
pesanannya harus dibayar dengan ongkos kirim mahal karena volume paket yang
besar.
Menjamin
produk dikemas dengan aman adalah hal yang penting. Karena konsumen tidak hanya
senang dengan kualitas produk, tapi juga dengan kualitas kemasan. Apalagi untuk
produk yang mudah pecah seperti bingkai mahar pernikahan. Tentu kita tidak mau
produk yang sudah dibuat dengan sepenuh hati, tenaga dan waktu rusak begitu
sampai pada tangan pembeli. Sehingga kami mengemas produk dengan bubble wrap
berlapis-lapis, dus tebal, plastik agar dus tidak basah, lalu dilabeli
dengan lakban fragile dan label brand kami yaitu
“maharnikah.hm” beserta kontak dan media sosial. Sejauh ini paket selalu aman
meskipun produk kami menggunakan bingkai kaca. Terbukti pada ulasan produk
dari konsumen yang puas dengan kemasan kami, masih ditambah terkesima dengan
hasil karya indah yang tertulis namanya dengan pasangan. Tentu ini tak lepas
dari peran jasa ekspedisi yang mengirim paket dengan cepat dan hati-hati. Senang
rasanya kalau pembeli puas luar dalam. Kebahagiaan tak terkira bagi konsumen
karena produk memuaskan, kemasan aman, pengiriman cepat dan ongkos kirim murah.
Sesuai dengan slogan JNE yaitu “Connecting Happiness”.
Mengantar Paket ke Kantor JNE Banjarnegara Sembari
Menjemput Anak Sekolah, Rabu (31/07/2024). Foto : Hastuti Madyaning Utami
Menjadi ibu
dari 2 balita tentu tidak mudah. Apalagi masih harus mengerjakan pesanan yang
terus datang. Definisi lelah tapi nikmat, kesibukan yang mendatangkan rezeki
memang harus disyukuri. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tetap dekat dengan
anak-anak. Bagaimanapun mereka adalah prioritas yang tak bisa aku abaikan.
Untungnya ada pilihan pick-up atau jemput paket di tempat, sehingga aku
tidak perlu meninggalkan anak-anak untuk mengirim paket ke counter. Namun
kini anak pertama kami sudah bersekolah
SD, sehingga jika sempat kami mengantar paket ke counter JNE secara
mandiri karena memang satu arah dengan sekolahnya.
Semangat Bertumbuh untuk Masa
Depan Cerah
Kini tugasku
bukan hanya merawat dan menemani tumbuh kembang anak, tapi juga merawat dan
mengembangkan bisnis rumahanku. Terus mengeksekusi ide-ide kreatif, merawat
kualitas produk dan kinerja agar toko tetap eksis seperti JNE yang sudah 33
tahun melayani pengiriman di Indonesia. Usiaku di bulan Agustus 2024 nanti
adalah 30 tahun, maka JNE 3 tahun lebih dulu lahir dari pada aku. Di usia JNE
yang ke 33 tahun, artinya sudah 33 tahun berpengalaman melayani ekspedisi di
Indonesia. Sedangkan aku baru berpengalaman sekitar seperenam dari usiaku.
Berasal dari
kreatifitas anak bangsa, JNE menjadi salah satu layanan ekspedisi terbaik di
Indonesia. Maka bolehlah aku mengukir harapan setinggi JNE meski untuk selevel
ibu rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga yang berdaya, yang bisa membantu
roda perekonomian Indonesia terus bergulir. Dan harapannya bisa membuka
lapangan pekerjaan untuk lingkungan sekitar. Selalu ada jalan untuk setiap
harapan. Dan demi harapan yang cerah, kita gass terus semangat kreatifitasnya.
#JNE #ConnectingHappiness #JNE33Tahun #JNEContentCompetition2024 #GasssTerusSemangatKreativitasnya


Komentar